Posts

Daging Panggang

 Malam itu Heri kelaparan. Ia menangis terus kepada ibunya lantaran sudah tidak makan dari kemarin malam. Bapak sakit sehingga tidak bekerja. Sudah hampir sebulan beliau tergolek di ranjang. Badannya kurus seperti tulang terbungkus kulit saja. Disuruh makan juga tidak mau. Ibu sudah sebulan ini juga bekerja serabutan untuk mencari makan. “ Diam sayang , nanti bapak cari lauk dulu,” kata Ibu pada Heri. “Bapak sudah sembuh Bu?” tanya Heri. Namun Ibu tak menjawab. Ibu pergi ke halaman belakang. Heri di ruang tengah tiduran, badannya sangat lemas. Selang berapa lama kemudian, Ibu kembali. “Tadi bapak pulang bawa daging. Mau dimasak apa?” “Heri ingin steak panggang, yang kayak di restoran,” kata Heri. Ia ingin sekali merasakan. Maka Ibu memanggang daging di atas kompor. Matang, Ibu menghidangkan di atas piring Heri. “Kok rasanya aneh ya?” gumam Heri. Namun ia tetap makan karena rasa lapar yang tak tertahankan. Dirinya agak kecewa karena daging itu tidak banyak, yang lebih banyak tulang...

Bayangan Misterius

  Di kegelapan hamparan aspal aku langkahkan kaki . Sesekali kepalaku berkeliling dengan mata yang meraba himpitan malam. Bulu roma terasa bangkit dari tidurnya, kala aku merasakan keanehan. Seperti ada yang sedang memperhatikanku dari jauh. Tapi nyatanya tak ada siapapun di jalanan ini. Cahaya lampu yang tak bisa memecah keheningan menjadi terasa angker untuk kupandang. Aku beranikan diri untuk tetap melangkah di jalan ini. Walau banyak rumor yang mengatakan jalan ini angker. Benar saja, karena disamping jalan ini ada bangunan tua mirip bekas bangunan Belanda. Bau anyir dan amis terkadang suka melintas di hidung orang yang melewat di depannya. Tak jarang sosok perempuan berambut panjang memakai daster putih terlihat sedang menyisir rambutnya di lantai dua bangunan tua itu. Sering pula terdengar suara-suara aneh yang memekakan telinga. Setiap dicari sumber suaranya, tak ada seseorang atau benda bersuara yang didapat. Seolah menjadi lagu mistis pengiring kehidupan para penghuni ban...

Ikan Ikan di Telaga

  Marni sedang sibuk di dapur, memasak kangkung hasil panen dari ladang. Aroma tumis kangkung tercium hingga ke dalam rumah, membuat Bimo anak semata wayangnya terbangun. “Ibu masak apa?” Bimo berjalan sempoyongan ke dapur sembari mengucek mata. “Tumis kangkung le” “Walah kok masak sayur terus sih. Aku kepingin makan ikan. Kapan ibu masak ikan?” bocah lima tahun itu cemberut. “Besok ya le, kalo ibu ke pasar ibu belikan ikan” ucap Marni sambil tersenyum. “Tapi aku mau makan ikan sekarang” Bimo mulai merengek. “Hari ini ikannya belum ada. Jadi Bimo sekarang maem sayur ya. Nanti ibu bikinin telur mata sapi yang kuningnya bulat di tengah. Bimo mau?” “Mau. Tapi janji besok ibu masak ikan ya” “Iya” ucap Marni sambil tersenyum dan Bimo pun ikut tersenyum. “Nanti bapak mau mancing. Doakan bapak biar dapat ikan yang banyak ya” Karmin yang sedari tadi mendengar percakapan istri dan anaknya langsung menyahut. “Iya pak” jawab Bimo. “Mau mancing dimana mas?” tanya Marni. “Di telaga” “Kenapa n...

Gelisah Pada Gelap

 “ Imah , tolong belikan lilin di toko” teriak Ibu . Aku yang tengah sibuk mengerjakan tugas sekolah di kamar, sontak menghampiri Ibu dengan tergesa-gesa. Dari tadi siang, listrik di rumahku mati sampai matahari hampir terbenam pun tak kunjung hidup. Padahal ada banyak pekerjaan sekolah yang harus dikerjakan. “Riwueh! Listrik mati” keluhku sambil mengambil uang yang diberikan Ibu untuk membeli lilin. “Eh, Imah tidak boleh mengeluh seperti itu. Tuhan tidak suka hambanya berputus asa” nasehat Ibu sambil mengangkat jari telunjuk padaku sebagai isyarat. Aku mengangguk pasrah lalu, meletakkan kedua tangan di telinga, satu kaki yang diangkat dan mulut yang harus membaca istighfar 33 kali. Unikkan Ibuku?. Seperti itulah kebiasaan, jika aku melakukan kesalahan tapi, membuatku kapok untuk tidak mengulanginya di depan Ibu. Setelah melaksanakan hukuman, aku langsung bergegas pergi karena cuaca yang hampir gelap. Tak lupa aku menyalami tangan Ibu dan mengucapkan salam. “Kok, jadi takut!” gumam...

Teman Hantu

 “ Aku aja yang bersihin gudang.” Dalam hati aku menggerutu namun di luar aku mengulas senyum. Menatap seseorang di hadapanku yang kini tersenyum manis. “Huaa makasih. Lo emang temen gue yang terbaik.” Dan yang paling bisa gue manfaatin. Itu kelanjutan kalimatnya, yang ada dalam pikirannya. “Ya udah kamu pulang aja. Kasihan supir kamu nungguin.” Ucapku dengan raut semanis mungkin. Temanku itu mengangguk lalu berlari menuju gerbang sekolah. Meninggalkanku sendirian di depan gudang berdebu ini. Tunggu, tunggu. Aku bilang apa tadi? Teman? Yang benar saja. Aku bahkan tak tahu atau lebih tepatnya tak mau tahu definisi teman yang sebenarnya, dalam artian yang sesungguhnya. Aku benci. Aku benci kelebihanku ini. Oh bukan-bukan. Lebih tepatnya kekurangan ini. Dapat mendengar suara pikiran orang lain. Bukankah itu sangat menyebalkan? “Jangan menganggap kelebihan lo adalah kekurangan.” Aku mengamati sekeliling sembari mengernyit heran. Mencari asal suara. Tak ada siapapun selain diriku. Apa...

Bersama Hingga Maut

Malam. Su Ci tidak tidur dan tidak berniat untuk tidur. Dia hanya berdiri di sudut kamar. Di tempat yang gelap. Siapapun tidak bisa melihatnya. Mungkin juga tidak berpikiran bahwa dia ada di sana. Namun orang di tempat tidur mengetahui dengan baik, tapi dia masih tidak bergerak dari tempatnya. Dia tidak tidur. Hanya pura-pura tidur. Orang di tempat tidur adalah Tuan Li . Dia satu-satunya orang yang masih tersisa di keluarga Li. Semua anggota keluarganya mati satu persatu. Mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Hati mereka hilang. Semua orang, bahkan Tuan Li juga percaya itu adalah perbuatan hantu. Jika bukan, mustahil manusia bisa mencongkel hati seseorang hanya dengan satu gerakan. Su Ci masih berdiri. Dia ingin membuktikan tebakan orang-orang. Jika pelakunya adalah orang, dia akan menangkapnya. Jika itu benar-benar hantu, dia masih akan menangkapnya. Sebagai detektif, tidak peduli apakah itu hantu atau orang, dia akan menegakkan keadilan. Bagi siapapun yang bersalah, dia akan mem...

Tempat Kecelakaan

 Dalam perjalanan pulang sekolah Lala melewati pohon beringin tua. Bebatuan kecil menusuk kaki lewat sela-sela sepatu bolong, karena keluarganya miskin sehingga ia tetap memakai sepatu tersebut. Bau keringat menjadi parfum di balik baju putih birunya. Jaraknya lumayan jauh ia tempuh bersama teman-teman sebayanya. “La, kamu belum dengar ada berita kemarin?” “Belum Na” “Kemarin, ada seorang ayah dan anak gadisnya mengendarai sepeda motor yang kecepatannya rendah sih. Mereka keasyikan bercanda sehingga tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Tiba-tiba, bruugghhh” sambil memukul bahu Lala ia bercerita. “Aaarghh” Lala kaget sekaligus takut sambil lompat-lompat. “Kamu sih ah” Lala marah. “Kalau cerita jangan sambil pukul Na, saya kaget jadinya”. “Sttt jangan terlalu berisik, itu tanda tempat kecelakaannya”. Lala terdiam menoleh kiri kanan karena penasaran akan tempat itu. Ia melirik sandal pink yang menggelora hati untuk memilikinya. Tempat itu tidak jauh dari rumah. Di pertigaan i...